Tampilkan postingan dengan label Modifikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modifikasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2009

Honda BeAT 2009

Honda BeAT 2009 (Jakarta)

Dadan Alamsyah racer pemula tim Yonek Gas Pol Kawahara Clinic (YGPKC). Dadan sanggup membawa Honda BeAT pacuannya kampiun kelas Matic 150 cc Pemula di Pertamax Plus BRT Indotire Matic Race & Party (PPBIMRP) 2009 seri II di Bandung, Jawa Barat, minggu lalu. Diganjar hadiah motor Minerva Sach MadAss.

Padahal, boleh dibilang BeAT tergolong pemain baru di balap skubek. Apa rahasianya ya? “Wah gak ada tuh. Mungkin karena setingan BeAT ini pas untuk kelas 150 cc,” ujar Deny Mansur, mekanik tim YGPKC yang punya workshop di Jl. Skuadron, No. 14, Halim, Jakarta Timur.





Deny yang punya nama panggilan Komeng ini, siap berbagi ilmu buat yang juga ingin coba korek skubek Honda 110 cc pendingin udara itu. Mulai dari mesin dulu ya! “Untuk menaikan kapasitas, sengaja stroke dinaikkan 3 mm pakai pen stroke Kawahara. Tapi pen ini, aslinya punya Honda Supra,” ujar Komeng yang memang punya karakter lucu tapi bukan pelawak.

Aplikasi pen stroke Supra, tentu butuh penyesuaian agar bisa diaplikasi BeAT. Pen kruk-as bagian kanan sedikit dilubangi. “Tujuannya, agar oli bisa naik untuk pelumasan. Maklum, kan pakai punya bebek. Kalau bebek, pelumasan mengandalkan pompa oli. Sedang matik, melalui crankcase,” ungkap Komeng.



Kelar pasang pen kruk-as, pria berambut 1 cm ini mengandalkan piston milik Suzuki Shogun 110 oversize 200. Diameter piston menjadi 55,5 mm. Piston pun pakai yang standar, bukan model jenong layaknya piston Izumi untuk balap.

“Itu karena untuk skubek ini, nggak butuh kompresi tinggi-tinggi banget. Yang penting endurance,” kata Komeng. Betul juga tuh! Jika kompresi terlalu tinggi, tapi hanya sanggup berlari beberapa lap saja, percuma juga kan?

Iya juga kalau materialnya kuat! kalau enggak, bisa jebol dah! Makanya, BeAT ini hanya menerapkan kompresi 11,3 : 1. Sesuai juga sama bahan bakar yang diaplikasi. Yap, Pertamax Plus.

Lanjut! Naiknya stroke dan bertambah lebarnya diameter piston, kini kapasitas BeAT jadi 148 cc. Biar mantab, yuk hitung. Stroke asli BeAT, 55 mm. Pakai pen 3 mm, naik-turun jadi 6 mm. 55 mm + 6 mm = 61 mm. Rumus volume silinder 0.785 x 6,1 x 5,55² = 147,7 cc. Dibulatkan, menjadi 148 cc.

Menemani kapasitas mesin yang sedikit membengkak, Komeng lebih mempercayakan semburan Pertamax Plus dari karburator Keihin 24 mm. “Karbu ini, copotan dari Honda Nova Dash. Untuk main-jet pakai ukuran 120 dan pilot-jet 45,” ungkapnya.

Oh ya! Hampir tertinggal. Untuk membakar habis campuran bahan bakar dan udara, otak percikan api pakai CDI BRT Hyperband. Anehnya, Komeng aplikasi milik Suzuki Shogun 125. Dan, timing atasnya dipatok di 30ยบ sebelum TMA.

"Memang aneh juga sih. Sebenarnya bisa juga pakai CDI milik motor lain. Tapi setelah seting, power lebih keluar pakai CDI Shogun 125," tutup Komeng dengan tawa khasnya. Yup!

Oke deh!


KUNCIAN LAINNYA

Memang Komeng bilang, tidak ada rahasia di antara kita. Toh, buktinya doi mau bicara juga. Termasuk juga, seting di kelapa silinder yang menjadi otak alias kuncian mesin 4-tak. “Head dipapas 1,5 mm. Kemudian volume kubah dibuat jadi 14,2 cc. Ini yang bikin kompresi jadi 11,3 : 1,” ungkap Komeng. Menemani isapan bahan bakar dan sisa pembakaran, klep dipilih merek EE yang punya ukuran 31 mm/ 25,5 mm.

Tapi oleh komeng yang masih lajang alias belum nikah ini, diameter payung dibubut ulang. Ya, diameter klep isap dibuat jadi 28 mm. Lalu, klep buang jadi 24 mm. Lho, kenapa gak pakai punya Sonic aja ya? Kan ukurannya sama.

“Punya EE lebih kuat di batang tuh. Enggak mudah hancur ketika benturan dengan rocker-arm,” kata Komeng yang nggak sekadar ngemeng alias ngomong doang. Nah, buat menentukan durasi klep buka-tutup, dipercayakan noken-as Kawahara.

Tapi sayang, menurutnya kem itu masih prototipe alias belum dijual masal. "Iya, dari Kawahara-nya sendiri bilang seperti itu. Untuk kem ini juga nggak ada yang diubah, langsung pasang dan untuk balap," bilangnya.

Kapan ya?

(Penulis/Foto : Eka/Boyo, Bela - motorplus-online.com )

Rating: 4.5

Jumat, 26 Desember 2008

Honda Blade 110R untuk Keperluan di Balap

Gampang Diseting

Mesin Honda Blade 110R punya seri NF110. Untuk keperluan balap, diprediksi gampang diseting. Beda sama generasi sebelumnya, C-Series 97 cc (100 cc) yang diterapkan di Astrea Prima, Grand, Supra sampai Revo.

Apa saja kelebihan Blade untuk pemakaian di balap. Nih alasannya.

BAUT BLOK BESAR

Baut tanam pengikat kepala dan blok silinder mesin C-Series diameternya cuma 5,20 mm. Sementara diameter drat cuma seukuran baut 10 (6 mm). Diseting kompresi tinggi sering nggak kuat. Baut kendur dan berakibat blok mangap.

Apalagi blok dibore up untuk ngejar volume 115 cc. “Jarak antara bibir liner dengan posisi baut tinggal 1 mm lebih dikit. Kalau mau ubah batangnya lebih gede, susah juga karena sudah sampai ke tepi liner,” jelas Erwin alias Akiang, mekanik Honda Banten Racing Team.



Kondisi itu beda sama Blade. Batang baut tanam lebih gede. Diameternya 6,20 mm, dengan diameter ulir 7 mm atau baut 11. Akiang buktikan di riset terbarunya. “Digeber kompresi 13,5 : 1, nggak ada gejala rembes atau bocor. Jadi saya kira sampai 14 : 1 masih kuat,” terang Akiang lagi.

Kelebihan lain, posisi baut dengan liner juga masih jauh, sekitar 6 mm. “Jadi selain tekanan saat kompresi nggak terlalu kencang, kalaupun batang mau diubah lebih gede dengan baut 12 juga bisa dilakukan. Tapi dengan batang sekarang sih, rasanya nggak perlu diubah,” papar mekanik yang sukses bikin Gandi Santana melejit di IndoPrix seri Sentul beberapa waktu lalu.

PENDINGINAN HEAD LEBIH BAGUS

Desain mangkuk penutup kepala silinder juga tampak lebih besar dibanding generasi Honda sebelumnya. “Jadi daya tampung oli yang mendinginkan head, kem dan lainnya yang ada di bagian depan lebih banyak. Otomatis, lebih dingin. “Dulu kan sering ada maslaah kepanaasan karena pendinginan kurang di bagian depan itu,” terang Akiang, yang siapkan Blade turun di balap.

BEARING KRUK AS LEBIH GEDE

Hal lain yang beda lagi adalah ukuran laher kruk-as. “Dulu, kruk as patah biasanya di posisi bearing yang batangnya kurang kokoh. Sekarang, laher sudah lebih gede. Jadi, efeknya kruk-as lebih kuat lagi,” yakin Akiang yang mekanik Rudi Motor Jl. Dewi Sartika, No. 32, Ciputat, Tangerang.


ROCKER ARM MODEL ROLLER


Pelatuk atau rocker arm sebagai penggerak katup Blade seperti di Supra X 125. Menganut model roller, putaran kem halus dan ringan gesekan. “Untuk balap menguntungkan karena kem banyak digerinda ulang. Sistem roller bisa meredam gejala kem tidak halus,” terang Bobeng alias Sugiono, mekanik senior asal Purwokerto.



sumber : motorplus-online.com/index.php/article/detail/id/334
Rating: 4.5

Kamis, 25 Desember 2008

Honda Blade 110R 2008 Racing Versi Pabrikan

Nampaknya PT Astra Honda Motor (AHM) sudah tidak terbendung asa. Ya, turun di gelaran balap nasional sudah dijalankan. Salah satu bukti lainnya, ini nih! Honda Blade 110R yang nangkring di stan Honda di Jakarta Motorcycle Show 2008 (JMS), JCC, Senayan, Jakarta Pusat.

Oleh PT AHM, Blade 110R yang resmi dilaunching 4 Desember lalu, dibuat versi road race atau motor balap aspal. Dilihat dari bodi sih, nggak ada ubahan berarti! Mungkin karena bodi Blade 110R sudah sangat representatif mewakili ketangguhan Honda buat tarung di kelas MP-1 atau IP-1. Yup, kelas bebek 110 cc tune-up.



“Ini sebagai bentuk atau contoh, untuk para pencinta Honda di arena balap agar tahu acuan modif road race untuk Blade,” ujar Handy Hariko, Deputi GM Technical Service Division, PT AHM. Pria ramah ini juga yang terjun langsung, untuk urusan balap Honda di Indonesia.

Apalagi diharapkan dari engine-nya, Honda Blade 110R yang mengusung mesin tipe NF110 ini bakal sangat kompetitif. Kan, sudah nggak lagi 97 cc. Tapi, sudah 109 cc. So, buat dibore up hingga 116 cc pun enggak masalah. Begitunya nggak banyak ubahan yang kudu dilakukan para pencintanya di sektor mesin.

Nah, buat pendukung lain nih! Sobat bisa simak sendiri langsung lewat foto. Ini tentunya buat yang enggak sempat datang ke JMS yang dihelat 6-14 Desember lalu.
Mulai dari sektor kaki-kaki dulu aja. Pelek palang yang diaplikasi, sudah cukup mumpuni buat dipakai di balap.

Di Blade 110R versi racing ini, ban tetap mengaplikasi lingkar roda standar. Enggak perlu diganti karena dari bobot pelek juga sudah mumpuni. Selain ringan, juga kuat! Paling tidak penyesuaian hanya ada di karet bundar. Yup! Tentunya, memakai karet bundar sesuai regulasi yang sudah ditentukan PP IMI.

Nah..., buat meredam kejut sektor buritan, suspensi Blade 110R yang sudah mumpuni buat harian pun diganti sok versi racing. Tentunya agar kemampuan entakan yang tersalur dari engine dan lintasan, dapat teredam sempurna.

Ubahan paling kentara lain, ada di sektor pengereman. Kaliper Blade 110R buat roda depan yang aplikasi satu piston, diganti model dua piston tipe racing. Agar bobot pengereman belakang mampu ikuti roda depan, maka kaliper satu piston berikut disk pun melekat di buritan.

Kombinasi pas!

DATA MODIFIKASI

Ban : Slick 90/80-17
Cakram depan : Daytona
Footstep : Yoshimura
Knalpot : Standar Blade
Karburator : Mikuni 24 mm



sumber : motorplus-online.com/index.php/article/detail/id/309
Rating: 4.5

Sabtu, 13 Desember 2008

Honda Blade 110R 2008

Tidak Hilang Identitas

Barcon alias barang contoh modifikasi, sepertinya sudah jadi menu utama setiap pabrikan ketika melaunching motor baru. Seperti yang juga dilakukan PT Astra Honda Motor (AHM) yang pada Kamis, 4 Desember lalu memperkenalkan Honda Blade 110R.

Tentunya tetap ada batasan yang kudu dijaga. Apalagi ini merupakan persembahan pabrikan. Setidaknya konsumen yang mau beli Blade 110R punya gambaran jelas kalau mau beli dan untuk kemudian dimodifikasi.





“Jiwa modifikasi mestinya tidak menghilangkan identitas produk. Kurang tepat ketika seseorang memodifikasi motor tapi tidak tahu kendaraan apa yang menjadi basicnya,” tandas Reza Godman selaku supervisi Blade 110R modif ini.

Jelas memang konsep yang diusung PT AHM terhadap Blade 110R ini. Headlamp dan front winker, F Shield, sasis masih tetap mempertahankan aslinya.“Ubahan terjadi di sektor kaki-kaki depan dan belakang,” ramah Reza lagi.

Karenanya, ketika seseorang melihat tampilan motor berkapasitas 110 cc yang sudah kena sentuhan modif ini, secara mantap pasti bakal bilang kalau ini Blade 110R.

Buat yang pengin puas melototin Honda Blade Advanced ini, silakan aja berkunjung langsung ke stand Honda di Jakarta Motorcycle Show 2008. Event dua tahunan itu berlangsung hingga 14 Desember 2008 mendatang.

KAKI-KAKI MOGE

Menurut Reza, ubahan pada kaki-kaki dilakukan untuk mendapatkan kesan moge. Seperti halnya pakar modifikator, Reza juga bilang kalau bagian paling eye catching dalam sebuah modifikasi memang ada di bagain itu.

Pemilihan komponen yang mau dipasang, diupayan masih berasal dari Honda juga. “Menggunakan varian moge Honda. Proses desainnya, terlebih dahulu disket. Tentunya supaya hasil yang didapat tetap proporsional,” jelasnya.

Penggunaan dua buah cakram depan untuk menambah kesan sporty ala moge sport Honda. Sekali lagi ia mengatakan, ubahan di sektor kaki-kaki ini tidak akan menghilangkan imej Blade.

BUNTUT PEDROSA

Dunia balap jadi inspirasi dunia modifikasi. Salah satu yang paling banyak diaplikasi yakni bagian belakang. Bokong motor balap di ajang MotoGP memang seksi abies. Bokong Honda RC212V besutan Dani Pedrosa jadi contohnya.

“Memang pada bagian ini sedikit mengubah bentuk. Karena mengikuti ubahan bagian suspensi belakang yang monosok dan lengan ayun lebar,” papar Reza.

APLIKATIF DI HARIAN

Satu hal lagi yang diwanti oleh Reza. Modifikasi itu mestinya bisa digunakan untuk kendaraan harian. Salah kaprah kalau memodifikasi tapi hanya untuk tampilan semata.

Kodratnya motor untuk dikendarai. “Jadi salah kaprah kalau mengubah tampilan motor oke tapi tidak bisa diajak jalan,” paparnya.

MOTOR Plus sudah mengusung itu jauh hari! Namanya MEFRIK (Modern, Estetika, Fungsional, Rasional, Inovasi dan Kreasi).

DATA MODIFIKASI


Ban depan : Dunlop 120/60-17
Ban belakang : Dunlop 150/60-17
Pelek belakang : Asahi 4.50-17
Pelek depan : Asahi 3.50-17
Lengan ayun : Honda CBR 600 custom
Sok depan : aftermarket
Mufler : Honda CBR 1000 Custom
Monosok : YSS

sumber : motorplus-online.com/index.php/article/detail/id/244




Rating: 4.5

Selasa, 02 Desember 2008

Yamaha Jupiter MX 135LC 2008 (Binuang)

Penakluk Si Komeng

Yamaha Jupiter MX 135LC ditaklukan Yudhistira. Tepatnya di Yamaha Asian Cup Road Racing (YACRC) 2008, Asian Cup of Road Racing (ACRR) 2008 seri pamungkas di Sirkuit Binuang, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Meski masih berumur 15 tahun, Yudhis sanggup bikin selisih 1 detik dengan rider Jepang dan Cina. Dua negara bersaing untuk mengumpulkan poin juara umum negara.

Kalau bicara berat badan, Yudhis bukanlah yang termasuk ringan di ACRR 2008 Binuang. Di situ ada Maruyama Shunichi bobot tubuhnya sama, sekitar 35 kg. “Bukan itu. Pembalap Indonesia tahu karakter motor dan tekniknya bagus. Ini motor standar, tinggal skill yang dilombakan,” bilang Ryosuke Nakaki dari Jepun yang lihai menekuk GP Mono di All Japang Championship.



Artinya, Yudhis punya kuncian sendiri untuk menaklukan si Komeng di kejuaraan balap motor antar negara itu. Untungnya Yudhis nggak compang-camping geber MX135 di Binuang, seperti Komeng di iklan.

“Motor enggak bisa digas full dan disentak. Putaran mesinnya dibatasi. Yang penting bagaimana keluar tikungan lebih cepat,” bilang putra dari H. Jajam, Direktur sirkuit Binuang, Banjarmasin.

Regulasi ACCR memang ketat. Boleh diganti cuma knalpot, foot step, CDI, sokbreker belakang dan ban depan-belakang. “Kita setting yang aman aja. Jangan sampai putaran atas kering. Mesin bisa nggak awet,” beber Zainuddin alias Bang Jay, mekanik senior yang dipercaya menangani tim Indonesia di ACCR Binuang.

Setting ulang karburator jadi penting supaya enggak terjadi campuran miskin bensin. Efeknya tenaga mesin bisa ngedrop. Pilihan spuyer MX135 yang dipakai di ACCR Binuang pilot-jet 17,5 sampai 20 dan main-jet 98 sampai 102.

“Saya memilih tenaga menengah-atasnya lebih cepat. Soalnya di sini, kan banyak tikungan,” ungkap Yudhis yang bergabung di H. Rihan Racing Team, Binuang.

Makanya, Yudhis kelihatan lebih cepat di kelokan dibanding trek lurus. Untungnya karakter mesin Jupiter MX135 dengan standar racing cukup membantu gaya balap Yudhis.

EDISI KHUSUS


Pemasok komponen resmi Asian Cup of Road Racing (ACRR) dari PT Mitra Lestari Motorindo (MLM). Semua ini sudah lewat izin pabrikan Yamaha Indonesia sebagai sponsor utama dan FIM-UAM sebagai penggagas ACRR 2008 di Binuang. “Mereka (maksudnya MLM) yang siap dan terbukti secara kualitas,” bilang Ari Wibisono, Motor Sport Division Head PT Yamaha Motor Kencana Indonesia.

Makanya, MLM bikin komponen sesuai regulasi ACRR. Seperti CDI yang hanya bikin putaran mesin maksimum 13.000 rpm. Termasuk juga knalpot yang dirancang sesuai spesifikasi mesin standar racing. Begitu juga sok yang dirancang supaya nggak bermasalah ketika manuver.

“Sempat kewalahan waktu ditunjuk sama panitia. Knalpot, CDI, dan sokbreker dibikin khusus buat balap ini. Tentu sesuai aturan FIM-UAM,” bilang Benny Rachmawan dari Product Development MLM, Jakarta.

DATA MODIFIKASI


Ban depan-belakang : FDR Sport XT-R 90/80-17
Sokbreker belakang : YSS MO 302 205T
CDI : TDR
Rantai : 415x130 DX
Gir depan-belakang : DID 14-55
Knalpot : TDR

sumber : motorplus-online.com/index.php/article/detail/id/126
Rating: 4.5

Honda Revo 2008 (Surabaya) |

Aliran komorod (korban modifikasi road race) masih punya fans setia. Seperti Rony Suhartanto from Surabaya. Mengambil basis Honda Revo dimulailah proyek modifikasi dengan arahan balap pasar senggol itu.

“Ubahan yang dilakukan tidak terlalu ekstrem tapi sudah menawan,” alasan Rony Suhartanto yang juga marketing support salah satu dealer Honda di SBY itu. Katanya cukupminimalis lantaran untuk dijadikan pajangan showroom. Selain itu bentuk standar Revo yang sporty memang cocok sama tampilan racing look.


Permak utama dilakukan pada kaki-kaki, terutama belakang. Selain penggantian ban dengan ukuran lebih lebar, pria ini juga nekat ganti sistem peredam kejut. Dari double menjadi monosok. “Pakai punya Jupiter MX karena gampang didapat,” katanya.

Selain alasan itu, penggunaan kosonom alias monosok ini juga karena adapatsi swing-arm. “Ini variasi punya MX juga. Jadi, lebih gampang kalau pakai sok yang sama,” lanjutnya.

Lengan ayun ini juga relatif gampang didapat di pasaran karena peminatnya banyak. Bentuknya ala MotoGP memang digemari. Kesan racing yang ditonjolkan di buritan ini juga semakin maknyus setelah penggunaan knalpot undertail. Desain murni karya Rony. Tapi tampilannya yang masih malu-malu bikin kesan kurang berani.
DATA MODIFIKASI

Ban depan : Mizzle 80/80x17
Ban belakang : Mizzle 80/80x17


sumber : http://www.motorplus-online.com/index.php/article/detail/id/48
Rating: 4.5

Honda CS-1 2008 | Belum Final

Budi Hartono yang punya Honda CS-1 ini menyebut modifikasi yang dilakukan persis proyek Sangkuriang. Oleh Dayang Sumbi, Sangkuriang harus cepat membuat perahu besar berikut danaunya. Waktu yang disediakan hanya dalam satu malam.

Sementara Budi mengerjakan modif ini harus kelar dalam tiga hari. Tentunya buat mengejar contezt modif di ajang Honda CS-1 2 Wheel Slalom beberapa waktu lalu. Makanya belum seluruhnya atau final selesai sesuai selera Budi yang menginginkan ubahan seperti Yamaha R6.


Ubahan pertama fokus di kaki-kaki. “Rata-rata comot produk Honda Tiger Revo,” lanjut Lusep, builder dari Kahanan Motor di Jl. Kebagusan Raya, Jakarta Selatan. Sedang bodi dan arm custom dari bengkel Lusep yang asli Cerbon itu.

Karena belum kelar, bagian depan masih tampil standar. “Padahal pemiliknya pengin ubahan sektor depan juga. Tapi karena untuk contezt, malah menjadi nilai plus. Karena ciri CS-1 masih ada,” argumen mekanik satu anak ini.

Bodi juga baru terjamah cat hitam. Masih muyus, tanpa striping atau airbrush. “Rencana bakal diairbrush agar kualitas warna lebih bagus,” terang Budi yang tinggal di Cinere, Jakarta Selatan. Lumayan, belum sempurna tapi piala sudah di tangan. DATA MODIFIKASI

Pelek : Honda Tiger Revo
Cakram : Honda Tiger Revo


www.motorplus-online.com/index.php/article/detail/id/49
Rating: 4.5

Sabtu, 25 Oktober 2008

Drag Contezt

Yamaha Jupiter MX 135LC 2007 (Pangkalpinang)

Inspirasi racing style bisa datang dari beberapa aliran. Misalnya tampilan MotoGP, trail, road race bahkan juga drag. Nah, aliran drag lengkap dengan wheelie bar ini menjadi acuan Bona dari Pangkalpinang dalam mendandani Jupiter MX ini. Walau penggunaan atribut tadi hanya sebatas saat dipajang di arena contezt.

“Konsep drag diambil karena tampak sangar dan heboh,” kata Bona yang asli Bangka ini. Tapi dalam pelaksanaannya, konsep tadi belum sepenuh hati. Masih ada pilihan variasi dan gaya modifikasi yang tidak sealiran dengan tema itu.

“Ya memang itu disadari, tapi enggak apa-apa lah yang penting racing,” belanya. Konsep nanggungnya itu dimulai dari pemilihan desain bodi. Memang terlihat bagus, tapi ya kalau drag nggak begitu tampilannya. “Kita buat dari fiber dan karena buat jalan juga, maka dipasang head lamp dari Nouvo-Z yang lebih keren,” lanjut pria bertubuh kecil ini.

Kesan sportynya paling kentara juga dari pemilihan setang. Cabutan dari motor X1-R yang enggak masuk ke Indonesia memang terlihat balap abizz. Aplikasi ini memang banyak dipilih disini karena pemasangan gampang dan efek ubahan cukup mencengangkan.

Satu hal yang rada nyeleneh dari karya warga Jl. Kampung Bintang ini adalah pada jalur saluran buangnya alias knalpot. Menggunakan ujung muffler dari Remus yang aslinya buat mobil ditempatkan di bawah ke arah kanan. Bentuk seperti ini rasanya kurang safety karena berbahaya. Kemungkinan kaki pengendara merasakan efek panas atau malah bersenggolan langsung. Nyoss, kulit bisa melepuh deh.

Padahal dengan desain buntut yang sudah menggunakan undertail akan lebih sip jika knalpot itu nonggol di bagian ini. Selain safety juga lebih gaya. Setuju?
PELEK BELANG
Bona itu pada dasarnya seorang airbrusher. Dia sempat menimba ilmu dari beberapa guru di Jakarta. Setelah mudik, selain buka bengkel cat doi juga jadi modifikator. Jiwa seninya betul-betul bisa dilampiaskan di kampung halaman.

Pada Jupiter MX ini enggak hanya bodi yang mendapat kelir baru dari Sikkens, tapi juga pelek. Dengan pelapisan cat seperti ini memang pelek standar menjadi terlihat istimewa. Bahkan Bona punya ide berlebih, warna pelek depan dan belakang dibuatnya berbeda. Ada-ada saja.

DATA MODIFIKASI
Ban depan FDR 90/80-17
Ban belakang Delitire 110/70-17
Disc depan Racing One
Disc belakang Jupiter MX 135LC
Kaliper depan Brembo
Master rem Kitaco
Upside down Variasi Thailand
Setang X1-R
Swing-arm Custom
Footstep Yoshimura

sumber : motorplus
Rating: 4.5

Sabtu, 06 September 2008

Pas Buat Low Rider | Suzuki Skywave 125 2008 (Jakarta)

Untuk aliran low rider seperti yang lagi mewabah saat ini, pemilihan Skywave 125 memang nggak salah. Coba deh tanya Derajat Budiakso si pemilik skubek berkelir gelap ini. Doi yang dibantu Joddy dari Joddy Motor dan Aldhie dari bengkel D2M relatif gampang
mewujudkan semua itu.

“Enak karena bodi standar motor yang besar sehingga kalau dimundurin panjang, masih terlihat harmonis,” kata Oo, panggilan akrab Derajat. Ukuran pemanjangan juga bisa melebihi skubek lain. Untuk kali ini bahkan bisa sampai 25 cm.

“Kalau skubek lain malah jadi aneh bisa sepanjang itu, tapi nggak buat Skywave,” timpal Joddy. Sebelumnya dia pernah mencoba mundur 15 cm seperti umumnya tapi hasilnya malah terlihat aneh dan rada bantet. “Artinya bentuk bodi standar membutuhkan jarak mundur yang melebihi tipe lain,” cuap Joddy lebih jauh.


Lebih sip lagi dengan kondisi tadi, Oo berhasil mendapatkan ban dengan ukuran agak jarang. “Biasanya kan cuma 140, tapi sekarang dapat yang lebarnya 150,” ceritanya. Dengan ukuran karet roda yang sedemikian besar itu maka harmonisasi berhasil didapat. Jika ban terlalu kecil skubek malah jadi terlihat aneh.

Suspensi standar yang menggunakan dua sok juga dirasa kurang pas sama aliran ini. Itu pikiran Oo yang bekerja di dunia penjualan mobil ini. Mangkane, sokbreker tunggal langsung dijejalkan. Ada pengalaman seru yang bisa kita ambil dari ubahan satu ini.

“Coba pakai sok variasi Jupiter MX, ternyata malah terlalu keras,” kata Joddy lagi. Dalam pemasangan pun, terpaksa harus menjebol ruang bagasi di bawah jok untuk pegangan atas.

Saat dipakai jalan, sok belakang yang terlalu keras ini bisa menimbulkan bahaya. Apalagi kalau material braket dan desainnya nggak terlalu kuat. Bisa patah saat motor mengalami guncangan di jalan yang tidak rata. “Tapi kita pakai pipa yang kuat kok, ukuran 5 mm,” bela modifikator yang buka bengkel di Pangkalan Jati, Jakarta Timur ini.

Tapi atas nama kenyamanan berkendara akhirnya disepakati juga mengganti sok. “Tetap pakai punya MX namun yang standar memang lebih sip,” beber Aldhie yang mengerjakan sektor mesin dan CVT.
BORE UP 145 CC
“Kaki-kaki berat tentunya harus diimbangi ubahan dapur pacu agar motor bisa ngacir,” cuap Aldhie yang merombak mesin. Selain polish porting, proses bore up pun dilakukan supaya Night Rider ini jadi lebih bertenaga.

“Pakai piston Thunder 125 yang oversize 100,” lanjut pria yang buka bengkel di Jl. Kapin No. 1, Kalimalang, Jakarta Timur ini. Akibat penggantian ini maka kapasitas mesin meningkat jadi 145 cc.

DATA MODIFIKASI
Ban depan Deli Tire 140/60-14
Ban belakang Kenda 150/70-14
Pelek Custom
Knalpot Yoshimura
Sok belakang Kitaco
Setang Fatbar
Piston Suzuki Thunder
Roller LHK
Per CVT Kitaco
CDI Andrion HP7MC
Koil Andrion

sumber : www.motorplus-online.com
Rating: 4.5

Senin, 01 September 2008

Padat di Bawah I Honda Vario 2008 (Jakarta)

Pilihan aliran modifikasi Muhammad Andre bukan hanya sebatas low rider. Lewat penentuan ubahan yang tepat dia bisa membuat low rider berkarakter, yaitu mempunyai bentuk padat di sektor bodi bawah. Menarik karena untuk mengimbangi bentuk bodi standar Honda Vario yang runcing atau bersiku.

Bentuk padat tadi dimulai dari roda depan yang berukuran 3,5x12. “Untuk mendapatkan pelek itu susah banget karena tetap menggunakan material awal pelek mobil,” kata Johanes Hanafi yang menjual produk itu. Makin asyik dilihat finishing krom serta penggunaan jari-jari rapat 72 batang.

Pria gemuk ini bisa membuat pelek itu setelah hunting ke mobil tua atau keluaran sekitar 70-an. “Ini pakai pelek Hijet, kalau mobil sekarang rada susah dapatnya,” lanjut Johanes. Dengan menggunakan ban berukuran 90/90 maka roda depan terlihat semakin padat alias montok.


“Ditambah lagi bentuk sepatbor depan yang besar dan membulat, makin jadi deh,” kata Jaidun punggawa JJ Airbrush yang sudah lama memikirkan konsep ini untuk sebuah Vario.

Ubahan roda depan seperti ini cocok sama roda belakang yang juga menggunakan pelek mobil. Banyak yang hanya pakai di belakang sedang di depan biasa saja. Hasilnya tentu kurang sip. Beda dengan Andre.

Pelek belakang yang memiliki dimensi 3,5x14 inci memang paling sip dipadu ban 140/60. Ini menjadi ukuran ideal, tentunya apabila memungkinkan masuk dan nggak ngesrot di ruang roda. Efek ukuran ini sektor kaki belakang menjadi lebih kekar dan berisi.

Obesi Andre yang asal Parepare, Sulawesi Selatan untuk bikin montok tadi semakin diperjelas lewat pemilihan sokbreker dan knalpot. Harmonis didapat setelah pilih ukuran rada besar. “Kalau kekecilan nggak pas sama roda,” terang JJ meyakinkan.

Pendapat itu ada benarnya. Tapi sayang, untuk knalpot kesannya terlihat over atau berlebihan. Knalpot seukuran ini cocoknya di Honda Tiger. Akan lebih sip jika dicustom ulang dengan sedikit memperkecil dari yang ada sekarang. Pasti lebih sip!

PEMUDA CINTA NEGARA
Sadar dengan nuansa 17 Agustus yang begitu bersejarah bagi bangsa ini, Andre nekat tampil bak seorang pejuang. “Apalagi kan warnanya merah putih, nasionalisme banget,” ungkap pria yang pengusaha ekspedisi ini.

Vario ini langsung dirombak begitu diboyong dari showroom. Tentunya untuk dipersembahkan sebagai kado HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-63 ini.

MERAH SHADOW
Untuk urusan pengecatan, JJ menggunakan cat merek Debeer. Kelir merah yang menonjol terlihat bagus karena menggunakan efek shadow atau bayangan. Artinya nggak sekadar merah. “Tampilan merah jadi lebih enak dilihat. Juga membuat merah mendominasi,” cuap JJ yang lagi kebanjiran order ini.

DATA MODIFIKASI
Ban depan Deli Tire 90/90-12
Ban belakang Deli Tire 140/60-14
Sok belakang YSS
Filter Koso
Knalpot Custom

sumber : mplus


Rating: 4.5

Minggu, 31 Agustus 2008

Cepat dan Efektif | Yamaha Mio 2006 (Jakarta)

Pembelajaran penting bisa didapat dari modifikasi Yamaha Mio milik Faturrahman ini. Bukan hanya sekadar tips dan trik, tapi juga cara cepat dan efektif dalam mewujudkan motor impian. Bahkan, jurus yang diterapkan juga bisa ditiru.


Untuk mengubah Mio menjadi seperti ini hanya butuh waktu 4 hari. Fantastis memang! Maklum buat mengejar contezt akhir tahun di Pontianak yang memang tanah kelahiran Fatur.

Kerja singkat yang penting kesohor di sana. “Bisa cepat karena sudah mematangkan konsep dan belanja komponen sendiri. Jadi, begitu masuk bengkel semua sudah ready,” kata Fatur coba membagi ilmu.

Konsen untuk urusan ini, Fatur memang ingin coba bereksperimen. Apakah waktu pengerjaan singkat bisa sesuai harapan. Terbukti memang. “Biar nggak molor jangan sampai konsep berubah di tengah jalan,” pesannya lebih lanjut.

Sama dengan manajemen modif yang pernah Em-Plus tulis. Ayah satu anak ini sempat bercerita bahwa ketika memilih setang sempat ada tawaran menggunakan model lain. Tapi, karena tekad sudah bulat dia nggak mau mengubah itu. “Memang mengerjakan setang X-1 ini lebih susah tapi karena konsepnya begitu, jadi nggak mau ditawar,” ungkap Fatur.

Proses mau turun tangan sendiri juga diungkapkannya saat menceritakan berburu komponen unik seperti ban belakang dan spion. “Pelek dicari sendiri, maklum ini kan custom, pokoknya ditungguin,” bebernya.

Pelek ini memang ekstrem karena lebarnya mencapai 16 inci. Sedang untuk spion, dia harus mencari ke komunitas Harley-Davidson (H-D). “Kan kesan yang mau ditimbulkan bergaya hot rod. Lebih pas kalau pakai punya H-D,” cuap warga Cawang, Jakarta Timur ini lagi.

Secara keseluruhan desainnya memang terlihat pas dengan ubahan keseluruhan. Itu karena semua komponen sudah siap, maka sang modifikator hanya tinggal membuat bodi kit. Bodi kit diyakini pegang peranan penting karena masih mempertahankan bodi standar.

Dengan begitu, ubahan rangka tidak dilakukan. Pas dan tepat kalau akhirnya Fatur memutuskan untuk tuun di kelas fashion. Dengan tempelan bodi tambahan itu, skubek ini jadi terlihat besar.

Idenya dari majalah Jepang. Ciri virus negara Matahari Terbit ini memang menerapkan bodi ceper dan panjang dengan cover besar. Juga dari desain jok bertingkat. Semua ciri tadi ada di besutan milik anggota Jakarta Mio Club ini. “Di Jepang, modifseperti ini banyak diaplikasi pada Yamaha Majesty,” cuapnya lebih lanjut.

Setelah motor ini jadi, Fatur masih simpan obsesi untuk memberi airbrush grafis di seluruh bodi. Tapi, sampai saat ini masih belum menemukan konsep ciamik. Ada yang bisa bantu?

BUKAN MIO SOUL
Begitu melihat tampilannya, pasti banyak yang mengira kalau skubek ini Yamaha Mio Soul. Padahal ini masih masuk keluarga Mio Sporty 2006. “Saya sengaja beli bodi Mio Soul buat mengelabui,” bangga Fatur.

Tapi, bukan berarti gampang di pemasangan. “Pokoknya harus bikin banyak breket baru, lebih dari 10 titik,” lanjut mantan penari ini. Titik itu di antaranya di bawah behel, di atas CVT dan di bagian depan. Breket tadi dibuat untuk mengklik cover baru dari pelat tipis 0,2 mm.

PELEK 16 INCI BUAT SOUL
Di bagian depan, Fatur memasang pelek ukuran 16 inci. Lingkar roda itu ukuran maksimal buat Mio ini. “Kalau Mio lama bisa sampai ring 17 inci, tapi kalau Soul mentok cover bawah,” beber ketua divisi modifikasi JMC.

Untuk bentuk sengaja dipilih model jari-jari rapat. Ya, biar pas aja sama virus saat ini. Setuju!

DATA MODIFIKASI
Ban depan Yoko 70/80-16
Ban belakang Pirelli 140/60-14
Pelek depan TK
Pelek belakang Custom
Spidometer Koso
Sok depan X-Speed
Sok belakang Marathon
Disc depan Ninja
Disc belakang Ninja
Knalpot Koso

sumber : mplus

Rating: 4.5

Bukan Kucing Garong | Yamaha Mio 2006 (Rangkasbitung)

Berawal dari suka tampil ceper tapi tetap enak dikendarai. Tanpa disengaja Abep Sadat sudah mengarahkan Mio bergaya hotrod. “Awalnya hitam dipadu kuning emas. Namun dirasa masih kurang. Makanya diganti merah,” jelas Abep yang bukan adiknya Anwar Sadat itu.

Kalau dibiarkan hitam, Mio ini pas dijuluki Kucing Garong. Hitam, kepala besar dan postur bodi lebar. Juga jadi ingat parade modif yang banyak dijumpai saat contezt yang berbarengan dengan Bangkok Motor Show 2007, bulan lalu.

Ini bukan dan tidak meniru tongkrongan skubek Thailand terkini. “Sudah kelar sejak Februari lalu. Jadi, bukan ikutan,” argumen brother yang kerja bareng Sumardi alias Didi, pemilik Didi Motor dari depan terminal Raja Mandala, Rangkasbitung.

Abep sendiri mengaku kaget lihat modifikasi dari Thailand yang banyak ditulis Em-Plus. Gayanya sama betul. Ban gambot, sedikit ceper diikuti wheelbase panjang. Pokoknya hotrod abieees.

“Buatan Thailand banyak diaplikasi pada Honda Airblade yang memang lebih panjang. Sedang saya pilih Mio yang banyak beredar di lokalan,” bilang builder dari Jl. Prof. DR Ir. Sutami, No. 117, Rangkasbitung itu.

Tapi, bukan berarti Abep ikut memanjangkan sumbu roda. Meski Mio kelihatan sudah lebih molor, jarak antara roda depan dan belakang masih tetap standar. Hanya posisi bodi belakang dimundurkan. “Kira-kiri 10 cm dari asalnya,” tegas Abep yang juga diiyakan Didi.

Bodi motor dimundurkan dari posisi jok. Diikuti memangkas ketinggian jok hingga menyentuh karburator. “Sehingga posisi jok sekarang memungkian kaki pengendara bisa selonjor,” jelas Abep.

Nah, dari situ ketahuan jelas. Panjang dek tengah tetap standar. Hasilnya sumbu roda tetap standar pula. Tidak seperti trik builder Vespa yang lebih banyak memanjangkan sumbu roda. Dampaknya jadi berubah deh semuanya.

Konsekuensi yang didapat dari semua itu, posisi tangki harus mundur. Kapasitas BBM yang bisa ditampung juga mengecil. Sekarang tinggal 2,5 liter. Termasuk bagasi ditiadakan lantaran posisi jok mendem. Cover bodi tidak perlu bikin sendiri, paling menambah penutup di bawah jok depan. Beres.

KAKI HUSSAR
Kaki-kaki banyak diambil dari Sanex Hussar yang skubek mona (motor Cina) itu. Satu set depan diambil berikut komstir. Namun sok depan tetap dari Mio. Juga tabung sok diceperin, hanya main sekitar 5 cm.

Kaki belakang ganti roda satu set juga. Masih diambil dari Hussar. Menurut Abep sih enggak banyak perubahan alias tinggal pasang. “Tidak perlu diceritakan. Gampang banget,” yakin Abep.

SPION MOBIL
Meski Mio sudah melar, Abep tetap tidak masuh dalam golongan orang hyper. “Tidak asal pasang komponen tanpa fungsi jelas. Bikin malu aja. Meski comot variasi mobil namun tetap masih berguna. Seperti kaca spion variasi mobil. Juga lampu belakang yang mirip ekor hiu, juga dari roda empat,” tutup Abep.

DATA MODIFIKASI
Ban depan Sanex Hussar 120/70x12
Ban belakang Sanex Hussar 130/70x12
Pelek Sanex Husar
Spidometer Variasi
Indikator bensin Variasi
Palang tengah Pipa kotak
Sein belakang Ninja
Knalpot Silencer mobil
Setang BMX


sumber : motorplus-online.com/articles.asp?id=10361

Rating: 4.5

Senin, 19 Mei 2008

M1 Rossi Versi Bebek

Yamaha Jupiter MX 135LC 2006

Fans berat sama Valentino Rossi yang membuat Jani Satria makin gila. Bukan cuma sosok orang yang diidolakan. Yamaha M1 800 cc pacuan Valentinik juga begitu didambakan. Tak heran jika MX miliknya dipermak mirip tunggangan tim Fiat Yamaha. Hanya saja, motor doi cuma bebek.

Jani yang tinggal di Argomulyo, Sedayu, Bantul, Jogja ini bukan kerja sama dengan Jeremy Burges, mekanik Rossi. Tapi, diserahkan kepada builder muda, Didi Jhony, pemilik rumah modifikasi Jhony Custom.
Sebelumnya mereka berembuk dahulu ngomong masalah konsep. Dari beberapa yang ditawarkan Didi, akhirnya di ACC alias acal cetuju caja modif mirip gacoan Rossi. “Siapa tahu dengan modif begitu bisa ikutan banyak hoki.” harap Jani.



Sebagai langkah awal main telanjang dulu. Semua baju MX langsung dilucuti. Kemudian kaki depan atau sok depan yang standar diover alir buatan Gaz’i. Dengan alasan selain lebih modis juga tambah kuat.

Kaki belakang atau swing-arm dipasang model pisang Aprilia RS125 yang diklaim sebagai barang handmade Jhony Custom. Sok belakang tetap menggunakan monosok asli. Hanya saja pemasangan kudu disinergikan dengan arm buatan dewek itu.

Sekian saat telanjang, kini giliran menyiapkan baju atau fairing. Fairing yang asli tetap digunakan, hanya saja mengalami peruhan dengan bantuan fiberglass. Contohnya dibatok lampu. Di bagian ini lampu diganti di cover depan. Sedang dibatok kepala didesain seperti motor buat balap.

Tutup mesin juga banyak mengalami perubahan. Semula kecil, kini jadi besar dan tambah serasi dengan fairing asli. Dan perubahan lain juga tampak diujung buritan atau ekor. Lampu stop belakang sengaja dicetak ulang dengan fiberglass cair warna merah.

Masih demi menyesuaikan tampilan, jok dibikin single atau tunggal. “Kemudian, karena mesin sudah sedikit mengalami bore up, knalpot asli diganti jenis racing variasi,” jelas bro dari Jl. Janti, No. 88A, Jogja.

KOK DIJUAL?
Setelah fairing kelar, lantas dicat atau digrafis sesuai motif Fiat Yamaha milik Valentino Rossi. “Rupanya hoki Rossi menular ke saya. Karena motor saya dibeli orang Medan seharga Rp 16 juta,” bangga Joni yang juga anggota Yamaha MX135 Club Indonesia (YMCI) ini. Mungkin, gara-gara dijual prestasi Rossi di 2007 ikut melorot.

DATA MODIFIKASI
Ban depan Swallow 100/70-17
Ban belakang Swallow 120/70-17
Cakram + kaliper Daytona double piston
HP builder 0813-9220-7040


sumber : motorplus-online.com/articles.asp?id=10946
Rating: 4.5
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...