Tampilkan postingan dengan label CDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CDI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Desember 2008

Tentang Tingkatan CDI

Banyak yang masih bingung soal CDI. Semua produsen mengecap CDI buatannya paling bagus. Dari yang dilabeli standar Jepang, no limiter sampai racing. Apa sih bedanya? Untuk apa sih peruntukannya? Supaya tidak bingung mari tanyakan kepada pembuatnya.

UNLIMITER

CDI yang terus terang dan terang terus mengecap dirinya unlimiter yaitu Varro. CDI keluaran Junior Motor Sport ini bentuk dan ukurannya juga mirip standar. “Hanya terdapat tulisan Varro,” jelas Chris Tomas, bos JMS dari Cibinong yang lagi getol berpromosi itu.

Tomas terus terang, CDI buatannya bukan racing. “Hanya limiter yang dibuang. Grafik atau kurva pengapian masih sama dengan standar,” jelas Tomas lebih rinci. Katanya dengan unlimiter ini putaran mesin tidak dibatasi.



Maksud Tomas sih dengan putaran yang setinggi-tingginya itu mampu memberikan nafas panjang pada mesin. Sehingga bisa berteriak merdeka! Iya bebas lepas tanpa halangan yang menahan.

Dengan putaran yang tidak dibatasi tenaga mesin akan meningkat. “Kan untuk mendapatkan tenaga mesin yang besar kudu didukung putaran tinggi pula,” urai Tomas sambil membeberkan rumus hubungan power mesin dan gasingan.

Makanya CDI Varro unlimiter ini lebih cocok untuk motor harian yang mau bertenaga lebih. Meski masih menggunakan knalpot dan spuyer standar tidak jadi masalah. Cocok dengan aturan sekarang yang melarang knalpot berisik.

Jadi, CDI unlimiter Varro di atas CDI standar namun banderolnya bisa ditekan. Seharga CDI standar after market namun dapat fasilitas lebih. Nah, pertanyaan teknis soal CDI unlimiter ini silakan kontak JMS di (021) 87901768.

CDI RACING

Sebagai pemegang merek yang banyak terjual di pasaran, pihak CDI BRT bisa ditanya soal CDI racing. “CDI racing tidak hanya unlimiter, kurva pengapian lebih advanced. Bahkan bisa diprogram,” jelas Tomy Huang, bos BRT yang baru saja merampungkan CDI buat Ninja 250.

Yang dimaksud lebih advanced derajat pengapian dibikin lebih maju dari standar pabrik. Namun pihak BRT memprogram advanced masih dalam posisi aman. “Artinya masih bisa dipakai untuk motor harian juga,” jelas Tomy yang berkacamata itu.

Pengapian lebih maju dimaksudkan supaya tenaga mesin lebih besar. “Kondisi ini cocok untuk mesin dengan bahan bakar oktan tinggi. Juga kompresi lebih tinggi dari standar,” bilang Tomy yang menggunakan cip dari Philips Belanda itu.

Kelebihan CDI racing BRT tidak hanya cocok untuk motor harian. Motor balap yang spek hig compression juga bisa pake. Apalagi BRT sudah mengeluarkan versi programmable yang diatur lewat remote.

Wajar jika CDI racing dijual dengan banderol mahal. Punya kelebihan dan programmable. “Yang dimaksud bisa diprogram itu tidak hanya timing atau derajat pengapian. Tapi limiter juga bisa diseting pada rpm berapa saja,” jelas Tomy yang menjual CDI dalam jumlah puluhan ribu tiap bulannya.

Menurut Tomy lagi dan lagi, CDI racing sekarang juga perlu limiter. Sesuai permintaan pasar dan mekanik sekarang. “Motor balap putarannya tidak terkendali. Jika dibiarkan lost tanpa batas, mesin kerap rontok,” cerita Bule alias Samsuri yang jadi tangan kanan Adriansyah, mekanik Kanzen Racing Team.

TIS DI ATAS CDI

Setingkat di atas CDI yaitu TIS (Transistor Ignition System). Kerjanya memanfaatkan transistor yang lebih advanced dibanding capacitor. TIS lebih unggul karena bisa dibuat simpel dan tidak ada imbas listrik yang besar di dalam CDI. Sehingga lebih aman dan tahan lama.

TIS banyak dijumpai pada motor yang baru nongol. Seperti di Suzuki Thunder 125 dan Kawasaki Ninja 250. Yang baru membuat TIS racing yaitu produsen CDI XP untuk Thunder 125. Juga pihak BRT sudah membuatnya TIS IMAX untuk Thundie 125 dan Ninja 250.

TIS IMAX BRT berbeda dengan sistem TIS biasa. Karena TIS umumnya menggunakan sistem transistor biasa, sedang BRT menggunakan sistem transistor hybrid. Keuntungannya lebih kuat dan tahan panas.

Lebih penting lagi sistem hybrid dilengkapi proteksi overload, yang akan memproteksi diri. Bila terjadi korslet atau kelebihan beban. TIS system hybrid ini diterapkan di banyak mobil mewah Eropa seperti BMW.



sumber : motorplus-online.com
Rating: 4.5

Rabu, 15 Oktober 2008

Fungsi Limiter CDI

CDI Racing Vs CDI Unlimiter

Banyak yang alergi terhadap CDI limiter. Terutama CDI bawaan pabrik motor. Katanya bikin motor tidak bertenaga dan loyo. Itu karena putaran mesin dibatasi 9.500 rpm dan jika digeber lebih tinggi lagi akan mbrebet. Jadinya mesin tidak teriak lantang. Wuengg…. bet…bet..

Padahal limiter atau pembatas putaran punya maksud. Bukan suatu kelemahan atau kebodohan pabrikan, lho. Justru Si Jepang sudah berpikir maju ke depan. Soalnya limiter memang cocok dipakai untuk motor harian alias bukan buat balapan.

Banyak pertimbangan, kenapa motor harian harus diberi limiter. Pertama dan yang penting bagi yang tahu karakter mesin bisa lihat dari grafik hasil dynotest. Untuk motor harian, tenaga maksimum berkisar di gasingan 6.500-9.500 rpm.

Sebagai contoh diambil dari spesifikasi teknik asli pabrik. Yamaha Jupiter MX 135LC, tenaga maksimum 11,33 dk pada 8.500 rpm. Contoh lain Satria F-150 power maksimum 11 dk pada 9.500 rpm. Padahal putaran mesin MX dan Satria F bisa digeber lebih tinggi dari 9.500 rpm. Namun tenaga maksimumnya di rpm 8.500 dan 9.500 rpm itu.

Angka lebih kecil lagi boleh lihat di Supra X 125. Power terbesar 9,5 PS (9,3 dk) pada 7.500 rpm. Padahal Supra X 125 ini bisa digeber sampai 9.500 rpm juga. Namun tenaga terbesarnya justru di 7.500 rpm itu. Meski digeber lebih tinggi lagi percuma, tenaganya akan drop.

Perancang atau orang dari bagian Reseaerch and Development (R&D) pabrikan tahu betul soal itu. “Makanya putaran mesin dikasih limiter. Supaya tidak sia-sia dan bikin bensin terbuang percuma,” analisis Pendy Suryanda dari bagian training roda dua PT Indomobil Niaga International (IMNI).

Pak Pendy mengajak lihat grafik hasil dynotest milik Bintang Racing Team pada Suzuki Satria F-150. Kurva power menanjak dari rpm bawah sampai 9.000 rpm dan didapat tenaga maksimal 12,7 dk. Setelah lewat dari gasingan 9.000 rpm, kurva power akan ngedrop alias turun drastis.

Jadi, akan percuma jika gasingan mesin tidak dibatasi alias unlimiter. “Hasilnya tenaga ngedrop tapi sedotan bensin bertambah deras. Ini yang bikin boros bensin,” ungkap pria berkacamata itu.

Pertimbangan lain memasang limiter di motor standar untuk didapatkan endurance yang tinggi. Putaran mesin dibatasi bikin awet komponen. Maklum material yang dipakai memang untuk motor harian alias bukan buat balap. Pantas jika pabrikan berani kasih garansi 3 tahun.
TORSI BUKAN DI RPM PUNCAK
Torsi memang ada hubungan dengan power. Dari rumusnya memang berbanding lurus. Jika torsi besar, tenaga bakal gede. Karakter power dan torsi juga sama. Letaknya bukan di rpm puncak melainkan di tengah.

Sebagai contoh Honda Supra X 125, torsi maksimum 1,03 kf.m pada 4.000 rpm. Padahal putaran mesin Supra X 125 lebih dari itu kan. Ini yang bikin irit bebek 125 buatan Honda ini. Soalnya torsi besar di gasingan bawah. Untuk mendapatkan tarikan tidak perlu bejek gas.

Torsi juga ada hubungan dengan penghematan bensin. Coba bandingkan dengan rivalnya Suzuki Shogun 125. Torsi maksimumnya 1,1 kg.m pada gasingan mesin 6.500 rpm. Torsi berada di rpm lebih tinggi dibanding Supra X 125. Ini yang bikin Shogun 125 lebih boros.

Ini juga yang sebenarnya membuat pabrikan pasang limiter di CDI motor standar. Akan percuma putaran tidak dibatasi tapi tenaga malah ngedrop. Apalagi bensin ikutan boros juga. Ditambah lagi komponen yang jadi minta cepat diganti.

MOTOR BALAP BUTUH UNLIMITER
Karakter motor balap memang beda. Tenaga maksimum letaknya di rpm 11.000 atau lebih. Jika masih menggunakan CDI standar yang limiternya di 9.500 rpm, powernya tidak akan keluar. Soalnya tertahan putaran yang juga sudah dibatasi.

Untuk itu limiter harus dibuang. Atau limiter digeser di 17.000 rpm misalnya. Maksudnya, supaya tenaga motor keluar semua. Ini maksudnya pilih CDI unlimiter atau CDI racing. Cocoknya di motor balap.

TETAP BUTUH LIMITER
CDI racing memang identik dengan unlimiter. Padahal yang namanya CDI racing itu juga ada limiternya. Namun posisinya tidak di 9.500 rpm, digeser di 17.000 rpm misalnya. Lebih dari itu untuk ukuran motor cc kecil percuma. Soalnya rentang power band paling di antara 10.000 sampai 11.500 rpm.

Perlu diketahui juga, untuk motor balap tetap butuh limiter. “Maksudnya guna membatasi putaran supaya tidak kelewatan yang berakibat mesin jebol. Makanya CDI BRT dilengkapi program limiter. Bisa dipakai atau dilepas. Tinggal seting saja,” promosi Tomy Huang, bos CDI Cibinong.

Tomy dalam merancang CDI mengikuti kemauan pasar. Artinya fleksibel, limiter bisa dipasang atau dilepas. “Tinggal atur lewat program atau tombol yang ada di CDI,” terang pria berkacamata itu.


sumber : motorplus
Rating: 4.5
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...